BAIKNYA

kehilangan dirimu
menyakitkan nurani
separuh nyawa terbawa
menyisakan perih di hatiku

baiknya semua kenangan yang terindah
tak kubalut dengan tangis
baiknya setiap kerinduan yang merajam
tak ku ratapi penuh penyesalan

ku hanya terus berharap
ini bukan kenyataan
kau pergi tinggalkan dunia fana
akhiri kisah asmara kita berdua

baiknya semua kenangan yang terindah
tak kubalut dengan tangis
baiknya ku lepaskan segala kepedihan
tuk merelakanmu

mengapa semua ini terjadi
betapa ku mencintai dirimu
ku tak kuasa menahan kesedihan
yang begitu dalam

baiknya semua kenangan yang terindah
tak kubalut dengan tangis
baiknya setiap kerinduan yang merajam
tak ku ratapi penuh penyesalan

baiknya semua kenangan yang terindah
tak kubalut dengan tangis
baiknya ku lepaskan segala kepedihan
tuk merelakanmu

Created By ADA Band...
Read More. . . . .

Room Mate (Hamkhaneh)

Genre: Drama Komedi
Sutradara: Mehrdad Farid
Pemain: Bita Saharkhiz, Ali Reza Ashkan, Maryam Bubani
Durasi: 93 menit


Apa jadinya jika seorang gadis terpaksa serumah dengan lelaki yang bukan muhrimnya?? Di negara seperti Iran, ini masalah besar, karena dilarang keras oleh hukum agama maupun hukum sipil setempat.

Tapi Mahsa (Bita Saharkhiz) tak punya pilihan lain, karena tanpa Jamshid (Ali Reza Ashkan), ia tak akan punya tempat bermukim untuk menyelesaikan kuliahnya di Teheran. Dilema dan konflik inilah yang menjadi tema cerita film Room Mate (Hamkhaneh, 2008).

Masha dan Jamshid terpaksa berbohong sebagai pasangan suami istri agar dapat menempati rumah kosong milik seorang nenek tua yang akan berjalan-jalan ke luar negeri. Keduanya juga harus bahu-membahu memenuhi segala kebutuhan mulai dari belanja, memasak, sampai membersihkan rumah.

Keadaan menjadi kacau saat sang nenek tidak jadi jalan-jalan ke luar negeri karena visanya ditolak. Ketegangan pun semakin memuncak ketika ayah Masha berkunjung dan menginap.

Film yang skenarionya ditulis sendiri oleh sang sutradara Mehrdad Farid dan diproduksi di tahun 2008 ini menggambarkan berbagai situasi yang pelik, menegangkan, namun cukup menggelitik. Human tragedy yang biasanya muncul dalam kebanyakan film Iran, nyaris tak terlihat dalam film ini.

Berbagai adegan yang dikemas dengan pola editing yang ketat dan cepat membuat penonton merasa gemas, penasaran dan bahkan tertawa terbahak-bahak. Film ini juga mengajak penonton untuk
melihat bagaimana kehidupan masa kini di kota besar seperti Teheran, lengkap dengan problem-problem sosial seperti peredaran obat terlarang dan pelacuran.

Diawali dengan adegan Mahsa (Bita Saharkhiz) yang berjalan di lorong sekolah sambil meyakinkan para dosen, penonton langsung diarahkan untuk menyimpulkan karakter Mahsa. Mahsa adalah seorang perempuan yang pantang menyerah, obsesif, dan cenderung pemaksa. Karena kehilangan tempat tinggal, Mahsa terpaksa mencari tempat tinggal lain untuk tiga bulan ke depan, hingga ia lulus. Dengan uang seadanya dan tak bisa mengharapkan bantuan dari sang Ayah, apa yang bisa Mahsa perbuat?

Mahsa yang ta
k kehilangan akal, menyambut baik ide teman kerjanya untuk menjaga rumah seorang wanita tua, Fakhri. Sayangnya, Fakhri memberikan satu syarat mutlak, orang yang boleh menjaga rumahnya hanya pasangan yang sudah menikah. Mahsa pun repot mencari seorang lelaki untuk diajak berpura-pura menjadi suaminya, hingga ia bertemu Jamshid (Ali Reza).

Bersama Jamshid, Mahsa pun menciptakan kebohongan demi kebohongan. Taktik mereka berlangsung mul
us, hingga Fakhri berangkat ke luar negeri. Mahsa yang terlanjur merasa bebas dan nyaman di rumah Fakhri, kelabakan ketika mengetahui Fakhri batal bepergian. Hal itu berarti, ia dan Jamshid harus lebih meyakinkan Fakhri agar tidak kehilangan tempat tinggal. Alhasil, mereka benar-benar harus hidup dalam satu atap, dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di sinilah cerita mulai berliku-liku. Di negara seperti Iran, dua orang yang tidak menikah namun hidup dalam satu rumah, merupakan permasalahan besar. Bagaimana Mahsa dan Jamshid yang harus berperan sebagai suami istri di hadapan orang lain, dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain, mampu mengulirkan cerita demi cerita.

Ide cerita "Room Mate" sebenarnya menarik, bahkan bisa dikatakan sederhana. Karena jika tema "hidup seatap" diangkat oleh film lokal (Indonesia), barangkali akan terlihat biasa dan hambar. Namun ketika setting Iran yang mewakili, bisa berubah menjadi suatu hal yang berbeda. Saking sederhananya, cerita melaju linier. Tak ada subplot yang ditawarkan. Tak perlu banyak berpikir untuk menikmati film ini. Cukup duduk santai, penonton bisa tersenyum sesekali melihat tingkah polah Mahsa dan Jamshid.

Sayang, ide cerita tidak diikuti oleh penggarapan yang apik. Sinematografi seadanya, menjadi teman penonton hingga akhir cerita. Yang agak berbeda adalah bagaimana sequence gambar-gambar diambil. Juru kamera tampak mampu mengambil gambar dari sudut yang agak berbeda, tak terpikirkan sebelumnya. Dari situ terlihat, banyak hal yang sedang dieksplorasi. Layaknya film indie.

Lewat cerita yang dibingkai dalam "Room Mate" pula, penonton diajak untuk melihat kehidupan Teheran masa kini. Banyak pula masalah sosial yang diperlihatkan. Sebut saja masalah seperti peredaran obat terlarang, pekerja seks komersial, hingga moral. Namun, permasalahan itu hanya ditimbulkan dalam porsi yang sangat kecil. Kalaupun ada yang konsisten diperlihatkan adalah norma-norma yang selama ini dipegang oleh film ala Iran. Tak ada satu pun adegan sentuhan fisik antara Masha dan Jamshid, atau Masha yang selalu tampil berkerudung.
Huebat! Sampai-sampai foto "wedding" yang menjadi bukti 'kontak fisik' pun ternyata diambil secara terpisah & disatukan dengan teknologi. Kreatif...

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=42253

Read More. . . . .

Evanescence

Sejarah
Evanescence didirikan oleh Amy Lee dan mantan gitaris Ben Moody. Mereka berdua berjumpa pada sebuah kamp anak muda di Arkansas, di mana Moody mendengar Lee bermain lagu I'd Do Anything for Love (But I Won't Do That) karangan Meat Loaf pada sebuah piano.

Kemudian pasangan ini menemukan bahwa mereka sama-sama tertarik terhadap Jimi Hendrix dan Björk. Kemudian mereka bersama-sama menulis lagu (yang pertama adalah "Solitude" oleh Amy Lee, diikuti dengan "Understanding" oleh Ben Moody, "Give Unto Me" oleh Amy Lee. Kemudian lagu keempat yang mereka tulis adalah "My Immortal"). Lagu-lagu ini lalu dirubah sedikit secara lirik dan musiknya oleh Ashley Hincher. Oleh karena itu nama keduanya ditemukan pada bagian credit.

Untuk beberapa saat, mereka tidak dapat menemukan musisi lainnya yang bisa bermain dengan mereka dan tidak memiliki dana untuk membayar asistensi profesional, jadi mereka tidak bisa bermain musik secara live. Namun dua lagu mereka "Understanding" dan "Give Unto Me", bisa masuk tangga musik lokal dan permintaan untuk pertunjukan live mulai meningkat. Setelah grup ini akhirnya bisa berpentas, mereka akhirnya menjadi salah satu pementasan terpopuler di daerah mereka. Mereka berpentas menggunakan beberapa nama termasuk "Childish Intentions" dan "Stricken," sebelum memutuskan untuk menggunakan nama "Evanescence" (yang artinya adalah "berpudar", atau "menguap seperti asap"). Amy pernah berkata bahwa ia menyenangi nama ini karena nama ini misterius dan gelap dan meninggalkan kesan yang mendalam dalam benak seseorang. Oleh karena itu ia menginginkan nama ini.

Karya-karya awal
Album perdana mereka, Origin (dirilis tahun 2000), kurang dikenal oleh masyarakat pecinta musik. Evanescence juga merilis dua EP, yang sekarang sangat dicari-cari para kolektor karena sangat langka: Evanescence EP (1998) di mana ada sekitar 100 eksemplar dan, Sound Asleep EP, yang juga dikenal sebagai Whisper EP (1999), dan terbatas pada 50 eksemplar.

Tidak aneh, Origin dan kedua EP ini mengandung versi-versi demo dari beberapa lagu yang ada di album perdana mereka. Bahkan, rekaman lagu "My Immortal" juga ditemukan di Fallen selain terdapat di Origin, dikurangi beberapa instrumen pengiring. Namun Amy Lee sendiri menganggap bahwa rekaman ini bukan sebuah album yang sejati namun hanya sebuah kumpulan lagu-lagu demo (di mana beberapa di antara tidak dipentaskan secara baik) yang dikirimkan ke perusahaan-perusahaan musik. Hanya 2.500 eksemplar dari rekaman ini yang pernah dibuat dan dengan ini membatasi availability-nya hanya kepada beberapa yang mujur bisa membelinya pada tahun-tahun awal atau kepada mereka yang bersedia membayar ratusan dolar. Sebagai reaksi, Amy Lee bahkan mendorong para penggemar untuk men-download-nya dari internet pada sebuah wawancara.

Tidak mengherankan beberapa perusahaan pembajakan menjual rekaman-rekaman bajakan Origin, biasanya sebagai "rilis ulang Rusia" dan pada harga yang tinggi. Oleh karena itu disarankan bahwa para penggemar seyogyanya jangan membuang uang mereka pada sebuah eksemplar Origin karena kemungkinan besar bukan eksemplar asli dan tidak menguntungkan grup ini lagi.

Fallen
In early 2003, the lineup was completed by Amy Lee and Ben Moody's friends, John LeCompt, Rocky Gray and Will Boyd, all of whom worked on Evanescence's earlier songs. Meanwhile, Evanescence signed on with their first major label, Wind-up Records, and began work on their next album, Fallen. While they were looking to promote Fallen, Evanescence accepted an offer from the video game company Nintendo to perform on the "Nintendo Fusion Tour" which they headlined in 2003.

Fallen spent 43 weeks on the Billboard Top 10 was certified 7x Platinum in the United States; and sold more than 15 million copies worldwide, including 7 million in the U.S. The album was listed for 104 weeks on the Billboard Top 200, and it was one of eight albums in the history of the chart to spend at least a year on the Billboard Top 50.

Evanescence's major label debut single "Bring Me to Life", which features guest vocals from Paul McCoy of 12 Stones, was a global hit for the band and reached #5 on the American Billboard Hot 100. It provided Evanescence with their first UK #1 listing, where it stayed for four weeks from June-July 2003. The song also became the official theme for WWE No Way Out 2003. The equally popular "My Immortal" peaked at #7 in the U.S. and UK charts, and both songs were featured in the soundtrack for the action movie Daredevil. "Bring Me to Life" garnered recognition for the band at the 46th Grammy Awards in 2004, where they won the Best Hard Rock Performance and Best New Artist awards and were nominated for two others. The two other singles off Fallen are "Going Under" (#5 U.S. Modern Rock Tracks,[14] #8 UK Charts) and "Everybody's Fool" (#36 U.S. Modern Rock Tracks, #23 UK Charts); all were promoted by a music video.

Kepergian Ben
Pada 22 Oktober 2003, Moody secara tiba-tiba meninggalkan band ini, padahal sedang berada di tengah-tengah tur Eropa. Alasannya mula-mula yang dilaporkan karena mereka mengalami "perbedaan secara kreatif." Namun pada sebuah wawancara beberapa bulan kemudian, [1], Amy Lee berkata: "Kami mencapai suatu titik di mana jika tidak sesuatu halpun berubah, kami tidak akan bisa membuat album kedua."
Setelah saat itu, Amy Lee pernah berkata bahwa kepergiaan Ben hampir bisa dikatakan melegakan karena keberadaannya menciptakan ketegangan dalam band. Terry Balsamo dari band Cold mengganti Moody. Belum lama ini Moody mengaku dalam sebuah wawancara bahwa ia mengidap bipolar disorder, namun meninggalkan terapi narkoba dan alkohol ketika ia sedang terlihat pertikaian dengan Evanescence. Ia juga berkata bahwa lagu yang ditulisnya ketika kepergiannya secara tiba-tiba dan berjudul "10/22", mula-mula ditulisnya untuk menjelek-jelekkan Amy Lee. Namun setelah berintrospeksi Moody membeberkan bahwa ia sebenarnya membicarakan dirinya sendiri dan bukan Lee.

Anywhere But Home
Anywhere But Home dirilis pada tahun 2004 pada format DVD/CD. . DVD ini merupakan rekaman dari pertunjukan mereka di Paris beserta beberapa fitur di belakang panggung, seperti penandatanganan CD dan warming up. CD-nya sendiri berisi beberapa lagu yang sebelumnya belum pernah dirilis seperti "Missing", "Breathe No More" (dari film Elektra) dan "Farther Away". Lalu dalam CD ini terdapat pula lagu cover Korn "Thoughtless" yang pernah mereka mainkan pada beberapa pertunjukan live.



The Chronicles of Narnia
Amy Lee diminta untuk menulis sebuah lagu tema untuk versi film tahun 2005 The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe, namun lagunya ditolak oleh para produser karena dianggap "terlalu gelap dan bersifat epos". Lee kala itu berpikir untuk menyesuaikan lagunya, namun akhirnya ia memutuskan bahwa "ia tidak akan pernah berkompromi mengenai karya seninya untuk apapun."
Lee sudah memberikan sinyal bahwa para penggemar bisa mendengarkan lagu Nanrnia yang tak terpakai ini di masa depan. Pada halaman web EvBoard, papan pesan resmi Evanescence, Amy Lee berkata bahwa tidak ada yang hilang dan bahwa lagu ini merupakan bahan yang menarik untuk album baru mereka.

Gulat
Walaupun bukanlah sebuah bagian penting dari karirnya, beberapa karya Evanescence pernah dipakai di dunia gulat. Sebelum lagu "Bring Me To Life" dirilis di Amerika Serikat, lagu itu sudah menjadi musik tema untuk WWE No Way Out 2003. Christian Cage, seorang pegulat, memakai versi lain dari lagu "My Last Breath" sebagai musik iringannya.

Kontroversi Kekristenan
Pada awalnya Evanescence dianggap sebagai bagian dari Christian rock dan bahkan album mereka dijual di toko-toko Kristen. Namun para anggota band ini sudah menyatakan bahwa mereka tidak mau dianggap sebagai sebuah grup Christian rock, apalagi setelah Moody memaki-maki pada sebuah wawancara. Tidak lama kemudian toko-toko Kristen menghilangkan album-album mereka dari rak-rak mereka. Setelah itu Amy Lee menyatakan bahwa mereka BUKAN sebuah grup Kristen dan akan menghargai apabila gosip ini akan berhenti.
Namun biar bagaimanapun terdapat bukti bahwa Evanescence merupakan sebuah grup Kristen dan hal ini terutama terlihat atau terdengar jelas pada lagu mereka "Tourniquet".

Persamaan
Band ini seringkali disamakan dengan band nu-metal seperti Linkin Park, P.O.D. dan Papa Roach, namun banyak penggemar yang menolak karena persamaan ini kurang tepat karena hanya berdasarkan lagu "Bring Me to Life" saja, yang juga menampilkan vokalis 12 Stones; Paul McCoy yang bermain musik bergaya rap pada beberapa bagian pendek lagu ini. Namun hal ini tidaklah representatif bagi kebanyakan lagu-lagu mereka, baik di album Fallen maupun karya-karya mereka yang lebih awal. Evanescence juga disamakan dengan band-band seperti In Winter, Lacuna Coil, Nightwish, dan Within Temptation, yang semuanya memakai vokalis wanita dan tema-tema lirik yang gelap, namun band-band terakhir ini biasa dianggap symphonic metal/gothic metal dan bukan rock.
Pada saat pementasan secara live, Evanescence seringkali memainkan lagu-lagu cover dari band-band semasa seperti A Perfect Circle, The Offspring, Garbage, Metallica, dan Korn. Mereka juga pernah mementaskan lagu-lagu grup rock alternatif yang sudah dibubarkan seperti Soundgarden dan The Smashing Pumpkins.
Anggota band

Anggota terkini
• Amy Lee - vokal dan piano
• Tim McCord - bass
• Terry Balsamo - gitar

Mantan anggota
• Rocky Gray - drum (pisah Mei 2007)
• John LeCompt - gitar (pisah Mei 2007)
• William Boyd - bass (pisah Juni 2006)
• Ben Moody - gitar utama (salah satu pendiri - pisah Oktober 2003)
• David Hodges - keyboards (pisah December 2002)


Daftar lengkap rekaman Evanescence

Evanescence EP (Desember 1998, dirilis oleh BigWig Enterprises)[edisi terbatas, hanya 100 eksemplar]:

• 1. Where Will You Go (EP versi)
• 2. Solitude
• 3. Imaginary (EP versi)
• 4. Exodus
• 5. So Close
• 6. Understanding
• 7. The End





Sound Asleep/Whisper EP (Agustus 1999 dirilis oleh Evanescence dengan pertolongan dari BigWig Enterprises)[edisi terbatas, hanya 50 eksemplar]:


• 1. Give Unto Me (Sound Asleep versi)
• 2. Whisper
• 3. Understanding (Sound Asleep versi)
• 4. Forgive Me
• 5. Understanding
• 6. Ascension of The Spirit (instrumental)





Origin (4 November 2000, oleh BigWig Enterprises):

• 1. Origin (instrumental)
• 2. Whisper
• 3. Imaginary (Origin version)
• 4. My Immortal
• 5. Where Will You Go
• 6. Field Of Innocence
• 7. Even In Death
• 8. Anywhere
• 9. Lies
• 10. Away From Me
• 11. Eternal (instrumental)



Fallen (4 Maret 2003, oleh Wind-Up Records) [debut album]:

• 1. Going Under
• 2. Bring Me To Life
• 3. Everybody's Fool
• 4. My Immortal
• 5. Haunted
• 6. Tourniquet
• 7. Imaginary (versi Fallen)
• 8. Taking Over Me
• 9. Hello
• 10. My Last Breath
• 11. Whisper (versi Fallen)
(Beberapa saat setelah pertama kali diluncurkan ke pasaran internasional, lagu ke 12 ditambahkan ke album ini, yaitu My Immortal [versi band])


Anywhere But Home [live from Paris] (23 November 2004):

• 1. Haunted [live]
• 2. Going Under [live]
• 3. Taking Over Me [live]
• 4. Everybody's Fool [live]
• 5. Thoughtless (korn cover) [live]
• 6. My Last Breath [live]
• 7. Farther Away [live]
• 8. Breathe No More [live]
• 9. My Immortal [live]
• 10. Bring Me To Life [live]
• 11. Tourniquet [live]
• 12. Imaginary [live]
• 13. Whisper [live]
• 14. Missing (previously unreleased)



The Open Door ( 3 Oktober 2006):

• 1. Sweet Sacrifice
• 2. Call Me When You're Sober
• 3. Weight Of The World
• 4. Lithium
• 5. Cloud Nine
• 6. Snow White Queen
• 7. Lacrymosa
• 8. Like You
• 9. Lose Control
• 10. The Only One
• 11. Your Star
• 12. All That I'm Living For
• 13. Good Enough



Daftar Album Single:
Bring Me To Life promo single (Januari 2003, oleh Wind-Up Records):
• 1. Bring Me To Life
Bring Me To Life single (April 2003, oleh Wind-Up Records):
• 1. Bring Me To Life (album version)
• 2. Bring Me To Life (bliss mix)
• 3. Farther Away (final edit)
• 4. Missing
Going Under single (September 2003, oleh Wind-Up Records):
• 1. Going Under (album version)
• 2. Going Under (live acoustic)
• 3. Heart Shaped Box (acoustic Nirvana cover)
• 4. Going Under (video)
My Immortal single (Desember 2003, oleh Wind-Up Records):
• 1. My Immortal (band version)
• 2. My Immortal (album version)
• 3. Haunted (live @ AOL sessions)
• 4. My Immortal (live from Cologne)
Everybody's Fool single (Mei 2004, oleh Wind-Up Records):
• 1. Everybody's Fool (album version)
• 2. Taking Over Me (live from Cologne)
• 3. Whisper (live from Cologne)
• 4. Everybody's Fool (instrumental)
Ada juga lagu yang tidak pernah dijual secara umum, yaitu lagu demo mereka pada tahun 1997-1998 dan 2001-2002 yang banyak beredar di situs fan di internet.

Dikutip dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Evanescence


Read More. . . . .

Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina??


Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang diketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak. Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka.

Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Khaled Misyal, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Alquran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan Alquran. Tak ada main video-game atau mainan-mainan bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.


Sumber : http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/3051/mengapa-yahudi-mengincar-bocah-bocah-palestina

Read More. . . . .

Kentang dan Kebencian


Seorang Guru Sekolah Dasar (SD) mengadakan “permainan”. Guru menyuruh tiap murid membawa sebuah kantong plastik transparan dan kentang.

Masing-masing kentang tersebut di beri nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.

Selanjutnya guru mengharuskan murid-murid membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ketoilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

Keluarlah keluhan dari murid-murid SD tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Guru: “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?”

Alangkah tidak nyamannya !


Sumber : http://iwandahnial.wordpress.com
Read More. . . . .